Riam Pemantu merupakan nama yang diwariskan oleh nenek moyang kami. Nama tersebut tidak sekadar menjadi penanda sebuah tempat, tetapi memiliki makna dan ajaran yang terkandung di dalamnya.
Menurut cerita dan pemahaman leluhur, Pemantu menggambarkan keadaan ketika riam menghantam dengan kuat, melalui hempasan ombak dan derasnya arus. Di bawah Riam Pemantu terdapat tempat yang disebut Takalar Jayok.
Takalar memiliki arti perangkap, yaitu tempat yang dapat menahan atau menjebak. Sedangkan Jayok bermakna akan terdampar. Maknanya menggambarkan seseorang yang tidak mampu membaca dan menghadapi kekuatan riam dapat terbawa arus dan akhirnya terdampar.
Sementara itu, di bagian atas Riam Pemantu terdapat tempat yang disebut Uyut.
Sebelum menerjang Riam Pemantu, setiap orang dahulu akan “berpikir di Uyut”—sebuah ajaran agar seseorang berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Karena jika salah mengambil keputusan, seseorang bisa “dipukul” oleh riam dan akhirnya terdampar.
Itulah filosofi yang diwariskan leluhur melalui Riam Pemantu:
“Berpikirlah sebelum melangkah. Kenali alam sebelum menantangnya. Hormati alam, hormati adat, dan jangan melanggar pesan leluhur.”
Riam Pemantu bukan hanya sebuah riam. Ia menyimpan sejarah, bahasa, adat, dan pesan leluhur yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Mari kita jaga kelestarian alam dan warisan budaya ini.
penulis* Heno digantara.



