Aceh Utara,mataelangindonesia.con-
Lebih dari empat puluh hari telah berlalu sejak banjir bandang menyapu permukiman warga. Air bah memang telah surut, lumpur perlahan mengering, namun luka yang ditinggalkan masih menganga.
Di balik angka-angka laporan dan pernyataan resmi, ada warga yang hingga hari ini masih hidup dalam ketidakpastian kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman.
Pertanyaannya sederhana, namun menggugah: sampai di manakah tanggung jawab pemerintah terhadap warganya yang tertimpa musibah?
Di hari-hari awal bencana, bantuan datang silih berganti. Tenda darurat berdiri, dapur umum beroperasi, pejabat datang meninjau lokasi. Kamera menyala, pernyataan empati disampaikan. Namun waktu berjalan, sorotan memudar, dan perhatian pun perlahan menghilang.
Warga yang terdampak justru masih bergulat dengan kenyataan pahit rumah belum dibangun kembali, bantuan tak merata, dan masa depan yang belum jelas arahnya.
Bagi mereka, banjir bandang bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah awal dari rangkaian penderitaan panjang. Anak-anak kesulitan bersekolah, orang tua kehilangan pekerjaan, dan keluarga terpaksa bertahan di hunian sementara yang jauh dari kata layak.
Setiap hujan turun, trauma kembali hadir—takut air akan kembali membawa kehancuran.
Negara sering kali hadir cepat saat bencana datang, tetapi lambat dalam pemulihan. Padahal, tanggung jawab pemerintah tidak berhenti pada penyaluran bantuan darurat. Tanggung jawab itu mencakup pemulihan menyeluruh: rehabilitasi rumah warga, pemulihan ekonomi, jaminan pendidikan, hingga langkah nyata mencegah bencana serupa terulang.
Lebih menyakitkan lagi ketika bencana ini bukan sepenuhnya tak terduga. Kerusakan lingkungan, pembiaran alih fungsi lahan, serta lemahnya pengawasan sering menjadi bom waktu yang akhirnya meledak menjadi bencana.
Jika demikian, bukankah penderitaan warga juga merupakan akibat dari kelalaian kebijakan?
Empati sejati tidak diukur dari banyaknya kunjungan pejabat atau panjangnya pidato simpati. Empati diuji dari keteguhan hadir bersama rakyat hingga mereka benar-benar bangkit. Hingga rumah kembali berdiri, hingga dapur kembali mengepul, hingga anak-anak bisa tersenyum tanpa rasa takut akan hari esok.
Lebih dari empat puluh hari pasca banjir bandang, warga masih menunggu. Menunggu janji yang ditepati.
Menunggu negara yang benar-benar hadir, bukan hanya saat bencana menjadi berita, tetapi juga ketika luka masih terasa dan harapan hampir padam.
Karena pada akhirnya, sebuah negara dinilai bukan dari seberapa cepat ia datang saat tragedi, melainkan seberapa setia ia tinggal sampai rakyatnya pulih sepenuhnya.
Opini Oleh : Teuku Saifuddin Alban
Penulis : Teuku Saifuddin Alban
Editor : Tim Redaksi



