
MATA ELANG NUSANTARA ID
BARITO UTARA, 11 Oktober 2026 — Masyarakat Desa Pendreh, RT 03, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, akan melaksanakan ritual adat Wara Nyalimat dan Basiwah umat Hindu Kaharingan pada 17–28 Oktober 2026.
Berdasarkan jadwal yang telah disiapkan panitia, rangkaian ritual Wara, yang merupakan bagian dari rukun kematian tingkat akhir dalam kepercayaan Hindu Kaharingan, akan berlangsung pada 17–25 Oktober 2026.
Selanjutnya, ritual Mijom Apui Natong dijadwalkan pada 26 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ritual Basiwah pada 27 Oktober 2026, yakni prosesi pembersihan diri bagi keluarga penyelenggara Wara. Sementara itu, Nulak Salung dijadwalkan berlangsung pada 28 Oktober 2026.
Tujuh Liau Haring Kaharingan Diwara
Dalam dokumen panitia, tercatat tujuh Liau Haring Kaharingan yang akan diwara dalam rangkaian ritual adat tersebut, yaitu:
1. Tini
2. Iyas During
3. Rihai During
4. Hah Rani
5. Tinak
6. Satni
7. Gulak
Pelaksanaan ritual ini membutuhkan persiapan yang matang, baik dari segi perlengkapan adat, sesajen, maupun keterlibatan keluarga dan masyarakat. Persiapan bahkan dilakukan selama berbulan-bulan agar seluruh tahapan dapat berjalan sesuai ketentuan adat dan kepercayaan leluhur.
William Tojok Laksanakan Wara Nyalimat untuk Almarhumah Istri nya

Ketua Mantir Adat Desa Pendreh, William Tojok, akan melaksanakan ritual Wara Nyalimat untuk almarhumah istrinya yang telah meninggal dunia bertahun-tahun lalu. Pelaksanaan ritual tersebut juga berkaitan dengan almarhum Rihai, ayah dari Sito, yang merupakan pengurus agama Hindu Kaharingan.
Menurut William Tojok, ritual Wara tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan. Setiap tahapan memerlukan persiapan yang terencana, termasuk pemenuhan perlengkapan ritual dan sesajen sesuai ketentuan adat.
“Ritual Wara di Desa Pendreh bukan sesuatu yang dilaksanakan main-main. Persiapannya sudah direncanakan jauh-jauh hari karena semua perlengkapan dan sesajen harus lengkap,” ujar William Tojok.
Pelaksanaan ritual Wara di Desa Pendreh juga disebut mendapat pengakuan dari sejumlah demang adat, yang menilai rangkaian pelaksanaannya mengikuti tata cara Wara sesuai adat dan kepercayaan leluhur.
Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Kaharingan setempat, rukun kematian tingkat akhir merupakan bagian penting dari proses penghantaran Liau atau roh menuju tempat yang dianggap paling tinggi. Oleh sebab itu, kelengkapan sesajen, perlengkapan ritual, serta pelaksanaan setiap tahapan adat menjadi bagian penting dalam rangkaian Wara.
Persiapan yang dilakukan selama berbulan-bulan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada almarhum dan leluhur, sekaligus upaya menjaga serta melestarikan tradisi adat agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Panitia Penyelenggara
Ritual Wara Nyalimat dan Basiwah ini diselenggarakan oleh panitia yang diketuai Sito, S.Ag., dengan Royadi, S.Ag., sebagai sekretaris.
Panitia berharap seluruh rangkaian ritual adat dapat berlangsung dengan lancar, tertib, dan sesuai ketentuan adat. Dukungan keluarga, masyarakat Desa Pendreh, serta seluruh pihak yang terlibat diharapkan turut menyukseskan pelaksanaan ritual tersebut.
Dan tidak lupa tojok dan sito mengundang keluarga yang ada di berito utara dan keluarga yang ada di Palangkaraya , dan beberapa kabupaten se-Kalimantan. Agar berkenan hadir
(Redaksi )



